"Dari Tahun ke tahun, hari pahlawan ni terasa semakin hampa ya?"
"Jelas aja Hir, bagaimana gak hampa, pejabatnya pada sibuk ngumpetin
hasil korupsi, perang prasangka, lempar batu sembunyi tangan, jadi hari
ini paling-paling upacara doang, habis itu sibuk lagi dengan jarahan"
Jawab Uki.
"Kalian gak pada ikut upacara?" Kata Susi menyembul di balik pintu, biasa tanpa ngetuk.
"Ngapain panas-panas begini upacara"
"Ya menghargai para pahlawanlah.."
"Banyak cara menghargai para pahlawan selain upacara" Kata Uki.
"Kalau gak mau ya udah, jangan banyak komentar" Kata Susi membanting pintu.
Uki dan Zohir saling tatap, keduanya menggeleng.
Pukul delapan lebih sepuluh menit, mentari kembali perkasa, meski masih miring ke arah Timur.
Sabtu tanggal 10 November, entah apa yang terjadi di enam puluh atau
tujuh puluh tahun yang lalu, apakah sama damai seperti sekarang ini?
atau teriak perang masih ada di berbagai penjuru tanah air, tapi mungkin
kalian sepakat denganku, kalau hidup di jaman dulu sebenarnya tidak
terlalu buruk, setidaknya masih memiliki kesempatan untuk mengukir nama
di batu nisan sebagai pahlawan, saat ini, mau jadi pahlawan untuk diri
kita sendiri aja kadang sulit, semua telah berubah, kemajuan teknologi
telah memanjakan sekaligus membuai semangat juang, meski kita sadari
bahwa kita kembali di jajah oleh bangsa Asing, tentu dengan cara yang
berbeda, dan yang paling bertanggung jawab atas penjahan saat ini adalah
pejabat negara ini sendiri, dengan berdalih tidak memiliki sumber daya
manusia, dengan mudahnya menerima uang tips untuk sebuah proyek besar
yang dilakukan oleh negara-negara asing, yang jadi korban tetaplah
masyarakat, bawah. Ops... koq keterusan kebawa perasaan nih..
Ok, lanjut ke cerita..
Tepat di hari pahlawan ini, banyak mahasiswa menggelar demo, mungkin
tujuannya untuk membangkitkan semangat juang, sekaligus menghargai para
pahlawan bangsa yang telah gugur mendahului kita.
Tapi Uki dan Zohir
malah mojok di warung, menghadapi sisa-sisa goreng pisang, biasanya sih
nyari gratisan, tapi sekarang, keduanya bertekad untuk bayar
masing-masing, demi semangat juang di hari pahlawan, anehkan?
"Sebaiknya apa ya yang perlu kita lakukan di hari pahlawan ini?" Kata Zohir.
"Banyak Hir, tuh pungutin sampah di jalanan" Jawab Uki.
"Kalau kamu udah melakukannya duluan, baru aku ngikut"
"Kan kamu yang nanya, aku ngasih solusi, dan kamu donk yang lakukan,
punya solusi itu mahal" Kata Uki menyuapkan goreng pisang kemulutnya.
"Cuma solusi begitu mah, semua orang juga bisa, gak ada solusi yang lebih menarik gitu"
"Mm... ada Hir, cara termudah adalah dengan berkorban untuk kebaikan, nah sudah siapkan kamu untuk berkorban?"
"Korban apa dulu?"
"Ya banyak, contoh yang kecil, bayarin gorengan yang ku makan tadi, kan demi kebaikan juga" Kata Uki.
"Huh.. itu mah demi kebaikan kamu doang, tapi merugikan diriku"
"Ye.. namanya juga berkorban" Kata Uki.
"Kan kita udah sepakat untuk bayar masing-masing, demi hari pahlawan"
"Memang, tapi kalau kamu mau melakukan yang lebih baik, dan rela berkorban, tentunya harus bayarin donk"
"Ya ampun, kalian ini, dari tadi aku berangkat, sampai sekarang udah
pulang, masih duduk di warung" Kata Susi, Bella di sampingnya.
"Namanya juga menghargai pahlawan, kita lagi mengheningkan cipta" Jawab Uki.
"Mengheningkan cipta dari hongkong, coba deh melakukan hal-hal yang berguna" Kata Bella.
"Ini juga berguna Bell, berguna untuk kekenyangan perut, itukan yang paling utama dalam hidup" Jawab Zohir.
"Sekali-kali jangan pentingkan diri sendiri apa, tuh sekeliling kos kita kotor, banyak sampah, bersihin kek" kata Susi.
"hah.. yang sering buang sampah sembarangan siapa coba?
"Siapa lagi kalau bukan kalian, dari sekian banyak sampah, kalau di
hitung, puntung rokok kalian yang paling banyak, masih mau menghindar?"
Kata Bella melotot.
"Tenang deh Sus, Bel, sebentar lagi bakal bersih tuh kos" Kata Zohir menepuk dada.
"Ya udah, kita kerja bakti aja sama-sama, kasih tahu yang lain" Kata Uki.
"Oia, sekalian kasih tahu Ibu kos, untuk menyiapkan konsumsi" Kata Zohir.
"Ia, tapi kalian cepat pulang, Bi, usir aja dua makhluk ini,
menuh-menuhkan tempat aja" Terik Susi. S Bibi warung tersenyum ngangguk,
tangannya mengibas-ngibas ke arah Uki dan Zohir.
"Hari ini gratis bi ya?" Kata Uki main mata.
"Gak ada gratis-gratisan"
"Ya.. Bibi, inikan hari pahlawan, sekali-kali kek berkorban"
Si Bibi kekeuh gak ngasih gratisan, mungkin karena utang-utang yang
lama juga belum di bayar, akhirnya Uki dan Zohir kembali ke kos,
memperhatikan sekeliling halaman, memang banyak sekali puntung rokok di
sana.
"Kerja bakti-kebarja Bakti!!" Uki berteriak, menggedor setiap pintu,
sepuluh kamar di huni oleh lima belas orang cewek, satu kamar di huni
oleh Uki dan Zohir, kebayangkan betapa merepotkannya menjadi suku
minoritas, tapi Uki dan Zohir menikmatinya, bahkan sangat menikmati..
Susi dan Bella sudah di luar, Ibu kos datang tergopong, ikut semangat
juga melihat anak-anak kosnya punya inisiatif kerja bakti.
"Apaan sih Ki, ngantuk tahu" Kata Ika, nongol di balik pintu kamarnya, pakaiannya minim.
"Jam segini masih molor, malu tahu, ini kan hari pahlawan"
"Emang gue pikirin, lagian kita di sinikan bayar Ki, ngapain repot-repot"
"Bayar sih bayar, tapi urusan kebersihan, tanggung jawab kita donk, gak mau tahu, cepetan keluar, semuanya" Uki berlaga tegas
Dengan sangat terpaksa, Ika keluar kamar, di susul dengan Fitri, temen satu kamarnya.
Hari sabtu, kuliah pada libur, jadi anak-anak kos itu pada meringkuk
semua di kamar, kecuali Susi dan Bella, ikut upacara, maklum aktif di
pramuka.
Kerja baktipun dimulai, Uki dan Zohir bagian menebas dengan
arit tumpul seadanya, anak-anak cewek mungutin sampah, yang bergerak
cuma tangan kirinya doang, itupun sambil bergidik, padahal berasal dari
daerah semua, setahun dua tahun berada di kota, berubah semua, hanya
Susi dan Bella yang tidak terlalu berubah.
"Ki, paritnya sumbat nih" Kata Susi.
"Giliranmu Hir, terjun ke parit" Kata Uki.
"Enak aja, kamu aja sono"
"Susikan nyuruh kamu"
"Huh.. kalian berdua ini, cuma turun ke parit dangkal, masih saja
saling andalkan, percuma jadi laki-laki" Kata Susi, mengambil kayu agak
panjang, bersiap turun ke parit"
"Eh.. Sus, jangan nodai kulit mulus
kamu dengan air parit, biar aku aja" Kata Zohir, merebut kayu di tangan
Susi, langsung loncat masuk keparit, semangatnya kambuh, Uki ngikik.
"Eh.. malah di ketawain, bantuin donk" Kata Zohir.
Mau tidak mau Uki ikutan membantu Zohir, tapi tidak turun ke parit, aroma dan warna air parit itu cukup membuat Uki alergi.
"Kamu yang bersihin, larikan ke sisi sampahnya, biar aku yang ngangkat" Kata Uki.
anak-anak cewek sudah pada istrirahat, kini hanya menonton Uki dan
Zohir mengais-ngais sampah di parit, Susi senyam-senyum sendiri
memperhatikan Uki dan Zohir, Zohir tambah semangat, hingga tidak sadar
tubuhnya makin kelelep, tadi cuma sampai pinggul, kini sampai dada, dan
yang paling sialnya, ada benda kuning mengapung di sisi Zohir, Uki
bergidik, pura-pura tidak melihat.
"Satu lagi Hir, sebelah kamu" Kata Uki menahan tawa.
Zohir tanpa pikir panjang meraih benda itu..
"Busyet apaan?" Kata Zohir reflek tangannya mengibas, benda lembek kuning di tangannya berhamburan kesegala Arah..
"Pueh.. pueh..pueh.., Wueeeek... kata cewek-cewek serempak, Zohir
langsung keluar dari parit, berlari menuju air ledeng, Aroma tidak sedap
mengusik udara di sekeliling kos itu.
Uki malah ngakak, terlambat sadar, kalau bajunya terkena cipratan benda kuning yang dikibaskan oleh tangan Zohir.
Related Post :





